Cita-Cita

Sejak kecil saya termasuk orang yang tak memiliki cita-cita yang muluk-muluk. Cukup jadi pemain bola profesional, itu saja.

Sekali-kali ingin juga jadi super hero layaknya Satria Baja Hitam, Ultramen, dan Power Rager.

Dulu, banyak orang yang bertanya mengapa saya berkeinginan menjadi pemain bola, sementara profesi ini di Indonesia sangat tak menjanjikan bagi masa depan.

Lalu saya jawab dengan sederhana. “ini bukan masalah uang atau masa depan, akan tetapi ini soal kenyamanan, pengakuan, dan penghargaan.”

Karena di sepak bola saya mendapatkan ruang untuk diakui dan dihargai. Semisal, karena saya lihai bermain bola, saya kerap didaulat jadi kapten, terkenal, dan disegani oleh banyak lawan maupun kawan.

Berbeda di bidang akademik, saya terbilang individu yang termarginalkan.  Tak pernah didaulat jadi ketua kelas, teralienasi, dan dilecehkan. Saya teringat, karena saya kurang bergairah dalam belajar, karakter saya dibunuh habis-habisan oleh lingkungan terdekat.

Namun, cita-cita ini hanya bertahan hingga saya duduk di bangku SMA. Menginjak kuliah pola pikir saya secara berangsur mulai rasional.

Saya ingin diakui secara akademik. Saya mulai belajar “mati-matian”. Mulai menyentuh buku yang tak pernah saya sentuh semenjak SD. Tanpa disadari saya menjadi mahasiswa Nerd.

Kalian tahu? Nerd  kerap digambarkan sebagai seseorang  yang terlalu intelektual, obsesif,  dan gangguan sosial. Orang ini biasanya memiliki pola berpikir yang berbeda dari orang biasa, karena mereka memiliki pola pikir yang luas yang tidak mudah dipahami oleh kebanyakan orang.

Ah, saya nggak tau harus bangga atau bersedih hati dilekatkan dengan status begitu. Yang jelas, sejak saya mulai menekuni baca buku, saya tetap bergaul kesana-kemari. Saya juga masih kerap menggoda-goda wanita yang saya sukai, meski secara diam-diam.

Perlahan-lahan saya mulai menempatkan sepak bola bukanlah sebagai cita-cita, tetapi hanya sekadar gaya hidup.

Keinginan saya sekarang sederhana saja. Mempunyai gaya hidup yang bergairah. Apapun pekerjaan saya akan lakoni (asalkann sejahtera dan nikmat), sekalipun jadi karyawan.

Ada yang bertanya. “Apa selamanya mau jadi karyawan? Kamu gak mau jadi bos punya uang banyak bisa punya ini itu dan bisa ini itu?” kata seorang kawan yang kini jadi pengusaha, dia menyebut dirinya sosial enterpreneur.

Sejujurnya saya tak masalah menjadi karyawan. Saya tak suka memimpin, tak suka berpikir lebih dari yang saya butuhkan dan juga tak mau punya terlalu banyak uang.

Saya sudah cukup belajar bagaimana uang membuat keluarga saya berantakan karena perebutan ini dan itu. Saya sudah cukup tahu bahwa punya banyak uang untuk sedikit lagi sampai pada tahapan menjadi tamak dan tak mau tahu asal punya lebih banyak.

Bukan berarti saya anti uang. Saya sangat butuh uang, tetapi bukan sebagai satu-satunya sumber kebahagian. Uang hanya saya akan belanjakan buat beli buku, mengantarkan calon istri dan anak ke puskemas kalaupun sakit, atau pergi jalan-jalan menyusuri pelosok nusantara, jika penat dengan rutinitas.

Sudahlah, saya tak ingin berlomba-lomba untuk jadi kaya ataupun sangat kaya. Saya hanya mau jadi pintar, terdidik, dan memiliki pengetahuan dengan kerja-kerja tekun.

Sesederhana itu saja.

 

 

Advertisements

4 Comments Add yours

  1. Abdul Jalil says:

    Terkadang berangan muluk-muluk memang tak ada gunanya ya..Ada kalanya kita harus bijak dalam berangan.

    Like

    1. Betul… harus lebih bijak.. dan jangan lupa bersyukur

      Like

  2. abinamatic says:

    Gokil….
    Jendral mayor bermetamorphosis

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s